Oleh : Putri Eky Pratiwi (14/366112/PN/13770)
Lahan kosong atau menganggur seringkali hanya terbengkalai begitu saja. Seringkali lahan tersebut hanya dibiarkan oleh pemiliknya dan menjadi area yang ditumbuhi tanaman liar. Di beberapa daerah kita pasti pernah menjumpai tempat semacam itu. Bahkan tak perlu jauh-jauh, lihat sekitar kita saja. Misalnya pekarangan rumah, pasti ada arela kosong yang menganggur seluas dua hingga tiga meter persegi. Meskipun terkadang sudah dimanfaatkan sebagai taman atau difungsikan untuk lainnya, seringkali masih saja ada lahan kosong yang belum termanfaatkan.
Berbagai artikel pasti sudah banyak yang membahas tata-cara pemanfaatan lahan pekarangan yang menganggur. Contoh pemanfaatannya bisa untuk kebun sayuran, kebun tanaman obat keluarga (TOGA), taman minimalis, hingga untuk budidaya ikan. Nah, kali ini akan dikupas lebih dalam mengenai pemanfaatan lahan menganggur khususnya untuk budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal.
Mengapa ikan lele?
Ikan lele atau Clarias sp. merupakan ikan konsumsi yang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Dari warung kaki lima hingga restoran di hotel bintang lima kerap kali menyediakan menu ikan lele. Terlebih di kota-kota banyak menjamur warung pecel di pinggir jalan. Pecel lele merupakan hidangan yang tentunya tidak asing bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ikan lele merupakan komoditas perikanan yang cukup diminati oleh masyarakat. Di samping itu ikan lele mengandung protein hewani yang baik untuk tubuh karena protein merupakan zat pembangun. Selain itu, dari segi budidaya ikan lele relatif mudah untuk dibesarkan karena perawatannya yang relatif mudah.
Ternak Lele untuk konsumsi. Lele yang dibudidaya untuk di konsumsi, artinya budidaya dilakukan sampai lele berukuran besar atau proporsional untuk di konsumsi. Jika anda ingin berternak lele untuk di konsumsi, ada baiknya memilih jenis lele yang ukurannya sudah cukup sedang 6-7 cm agar mudah dan cepat dikembangbiakkan. Biasanya lele ukuran ini dapat dikembangbiakkan dan siap konsumsi pada usia 45 hari.
Mengapa kolam terpal?
Sebenarnya ada beberapa jenis kolam yang dapat digunakan untuk budidaya dalam perikanan. Diantaranya adalah kolam tanah, kolam semen, bak (fiber glass), dan kolam terpal. Menurut Ginting (2016) pada dasarnya wadah budidaya ikan di kolam terpal adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran.Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan. Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.
Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran. Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan.
Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif. Keuntungan dari kolam terpal adalah :
1. Terhindar dari pemangsaan ikan liar.
2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun
panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro.
4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan tidak berbau dibandingkan
pemeliharaan di wadah lainnya.
Secara umum, ada tiga jenis kolam terpal yang biasa digunakan yaitu:
1. Kolam terpal di atas permukaan tanah
2. Kolam terpal menggunakan bamboo atau kayu
3. Kolam terpal dengan kerangka besi atau pipa ledeng
Ketiganya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, antara lain:
1. Kolam terpal di atas permukaan tanah
Kelebihan :
- Praktis dan lebih mudah dibuat
- Investasi kecil
- Tidak mudah terkena banjir
- Mudahdilakukan pengeringan dan pembersihan
- Mudah disifon untuk mengeluarkan timbunan sisa pakan dan kotoran di dasar kolam
- Mudah dilakukan pemanenan
Kekurangan:
- Suhu kurang stabil
- Bila tidak kokoh / kuat akan mudah jebol
2. Kolam terpal menggunakan bamboo atau kayu
Kelebihan:
- Mudah dipindahkan
- Mudah dibongkar
- Mudah dilakukan pemanenan
- Mudah dibersihkan dan dikeringkan
- Relatif praktis
- Dapat dibangun di lahan sempit
Kekurangan:
- Jika tidak kokoh /kuat mudah jebol
- Tidak tahan lama, terutama di daerah rayap
3. Kolam terpal dengan kerangka besi atau pipa ledeng
Kelebihan:
- Mudah dipindahkan
- Mudah dibongkar
- Lebih kokoh/ kuat
- Tahan lama
- Mudah dilakukan pemanenan
- Mudah dilakukan pembersihan dan pengeringan
Kekurangan:
- Biaya relatif mahal
- Relatif sulit dalam pembuatan
- Bila berkarat dapat merusak terpal
Bagaimana persiapan budidaya lele dengan kolam terpal?
Persiapan untuk budidaya ikan lele dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Dalam pemeliharaan ikan lele untuk pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 70 cm. Dengan pola budidaya intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tebar benih ikan lele sebanyak kurang lebih 1800 - 2000 yang masing-masing benih tersebut berukuran 5 - 7 cm.. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama. Langkah-langkah pembuatan kolam terpal diantaranya:
sumber gambar : http://www.bpppbelawan.bpsdmkp.kkp.go.id/
Analisa Usaha Budidaya Ikan Lele dikolam Terpal
1. Gambaran Lingkungan Usaha
Ikan lele merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar, kebutuhan akan ikan lele untuk dikonsumsi sebagai penghasil protein yang diperlukan untuk kebutuhan tubuh kita dengan berbagai macam olahan.
2. Aspek Produksi
Penyiapan sarana dan peralatan Jenis kolam yang saya gunakan adalah kolam terpal sehingga dalam penyiapan sarana dan peralatan yang digunakan tidak banyak biaya.
3. Aspek Pemasaran
Dalam pemasaran saya tidak perlu susah payah untuk menjual, karena banyak pedagang atau penampung ikan lele untuk di jadikan pecel lele yang siap membeli ikan lele tersebut.
4. Aspek Organisasi
Pembudidayaan ikan lele ini dapat menyerap banyak sekali tenaga kerja, sehingga aspek organisasi disini secara tidak langsung dapat terpenuhi. Seseorang dapat bekerjasama dan berorganisasi dengan orang lain untuk membudidayakan ikan lele ini dengan sistem bagi modal dan bagi hasil.
Sebelum memulai sesuatu kegiatan usaha budidaya ikan, pembudidaya harus mengetahui aspek-aspek yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan. Dengan harapan supaya usaha yang dilakukan dapat lancar dan sukses. Yaitu dengan melakukan analisis sebagai berikut:
1. Strong (kekuatan)
a. Dengan budi baya ikan lele ini tidak terlalu memerlukan modal yang besar.
b. Penjualan ikan lele tidak terlalu sulit, tidak seperti ikan yang lainya.
c. Masih tingginya permintaan pasar terhadap lele terlihat dari mahalnya harga lele dipasar.
d. Masih impornya perikanan lele dari luar kota
2. Weaknes (kelemahan)
Tidak bisa membudidayakan produksi ikan lele dalam skala besar Bagi anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan lele dengan menggunakan kolam dari terpal
3. Opportunities (peluang)
a. Peluang usaha yang tidak pernah mati adalah usaha perikanan. Sebab setiap hari masyarakat
membutuhkan ikan untuk dikonsumsi semakin meningkat.
b. Lama pemeliharaan ikan lele 45 hari .
c. Banyaknya penjual lele di pasar menjadi nilai tambah karena berarti lele masih mudah dalam
pemasaran.
4. Threat (ancaman)
a. Dalam usaha ikan lele ini harus teliti karena ikan tidak tahan dengan cuaca yang tidak
stabil.
b. Selalu mengecek kedalaman air. Kedalaman air jangan sampai kurang dari 70cm karena itu akan
menghambat pertumbuhan ikan.
Permodalan
Biaya awal atau modal untuk mendirikan usaha ini, jumlah modal sebelum mendirikan usaha adalah Rp.3.500.000.
Biaya Tetap
Untuk biaya tetap adalah sebagai berikut:
1. Paku = Rp. 10.000,-
2. Bambu 1 Rp 10.000 @ 16 batang = Rp. 160.000,-
3. Terpal 3 x 3 x 1 m = Rp. 225.000,-
4. Tanggok 2 buah @ Rp 45.000; = RP 90.000;
5. Palu 1 buah = Rp. 45.000,-
6. Pembuatan kolam terpal 2 orang 2 hari = Rp. 200.000,-
7. Gergaji 1 buah = Rp. 35.000,-
8. Golok 1buah = Rp. 30.000,-
9. Bibit ikan 2000 ekor @ Rp300; = Rp. 600.000,-
10. Suplement organik 4 buah @ Rp 45.000; = Rp. 180.000,-
11. Ember 2 buah @ Rp 45.000; = Rp. 90.000,-
12. Pembuatan pagar kolam 2 orang x 3 hari = Rp. 300.000,-+
Jumlah = Rp 1.965.000,-
Biaya Variable
1. Air 1 bulan = Rp. 130.000,-
2. Pakan ikan 1 karung Rp.235.000 = Rp. 705.000,-
3. Listrik = Rp. 80.000,-
4. Transportasi = Rp. 100.000,-+
Jumlah = Rp. 1.015.000,-
Biaya tetap + biaya variabel 1 kali produksi
Rp.1.965.000 + Rp.1.015.000 = Rp.2.980.000
Biaya Tak Terduga
= Modal – ( biaya tetap + biaya variable)
= Rp. 3.500.000 – (Rp. 1.965.000 + Rp. 1.015.000)
= Rp. 3.500.000 – Rp.2.980.000,-
= Rp. 520.000,-
ANALISIS KEUANGAN
Persentase ikan yang hidup 95% persentase ikan dari 2000 ekor 2000 x 95 : 100 = 1900 ekor. Jadi persentase ikan yang hidup 1900 ekor
Penentuan Harga dan penerimaan . Setiap 1 kg ikan berisi 8 ikan lele jadi 1900 ekor/8 ekor = 273,5 kg. Harga jual = 273,5 x 15.000 = Rp. 4.102.500,-
Pengeluaran 1 kali produksi. Biaya tetap + biaya variabl. Rp. 1965.000 + Rp 1.015.000 = 2.980.000
Keuntungan dari hasil penjualan sekali produksi/45 hari. Penerimaan – Pengeluaran. Rp. 4.102.500 – Rp. 2.980.000 = Rp. 1.122.500
Jadi selama 45 hari masa pemeliharaan ikan lele ukuran konsumsi memperoleh keuntungan sebesar Rp. 1.122.500 (satu juta seratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah)
Sumber : http://www.bpppbelawan.bpsdmkp.kkp.go.id/index.php/artikel/105-budidaya-ikan-di-kolam-terpal
Nama :Muhammad fachruri Ali
BalasHapusNIM :15/378262/PN/14068
Golongan :A2.1
Kelompok :9
a. Adakah nilai penyuluhan
• Sumber Teknologi / ide pada artikel ini berasal dari pandangan penulis mengenai masih adanya lahan pekarangan yang belum termasnaatkan.
• Sasaran dari artikel ini adalah masyarakat para pemilik lahan pekarangan
• Manfaat yang diperoleh dari budidaya ikan lele dengan memanaatkan lahan pekarangan ini dalam bidang ekonomi tentu sangat menjanjikan dan dari segi keindahan lahan pekarangan yang sebelumnya tidak terawat dengan baik dapat terlihat lebih rapi.
• Nilai Pendidikan yang dapat diperoleh dari budidaya ikan lele ini tentunya mengajarkan bagaimana mendapatkan keuntungan dari aset berupa lahan pekarangan yang dimiliki supaya memberikan tambahan pemasukan bagi pemiliknya.
b. Sebutkan dan Jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel
1. Proximity: Berita dalam artikel tersebut sangat dekat dengan masyarakat tidak terkecuali petani itu sendiri.
2.Importance: Artikel ini berisikan tentang budidaya ikan lele dengan memanaatkan lahan pekarangan dan hal ini pentinguntuk diketahui dan diterapkan oleh petani dan masyarakat.
3.Development: Artikel ini juga berisikan bagaimana cara memulai budidaya ikan lele dengan metode penggunaan terpal disertai kelebihan dan kekurangan dalam masing-masing metodenya
3. Human intrest: Artikel ini memberikan gambaran mengenai keuntungan yang diperoleh dari budidaya ikan lele memanfaatkan lahan pekarangan yang tentunya menggiurkan bagi para pembacanya