Minggu, 28 Agustus 2016

Pemanfaatan Lahan Menganggur untuk Budidaya Ikan Lele dengan Kolam Terpal

Oleh : Putri Eky Pratiwi (14/366112/PN/13770)

Lahan kosong atau menganggur seringkali hanya terbengkalai begitu saja. Seringkali lahan tersebut hanya dibiarkan oleh pemiliknya dan menjadi area yang ditumbuhi tanaman liar. Di beberapa daerah kita pasti pernah menjumpai tempat semacam itu. Bahkan tak perlu jauh-jauh, lihat sekitar kita saja. Misalnya pekarangan rumah, pasti ada arela kosong yang menganggur seluas dua hingga tiga meter persegi. Meskipun terkadang sudah dimanfaatkan sebagai taman atau difungsikan untuk lainnya, seringkali masih saja ada lahan kosong yang belum termanfaatkan.

Berbagai artikel pasti sudah banyak yang membahas tata-cara pemanfaatan lahan pekarangan yang menganggur. Contoh pemanfaatannya bisa untuk kebun sayuran, kebun tanaman obat keluarga (TOGA), taman minimalis, hingga untuk budidaya ikan. Nah, kali ini akan dikupas lebih dalam mengenai pemanfaatan lahan menganggur khususnya untuk budidaya ikan lele menggunakan kolam terpal.

Mengapa ikan lele?

Ikan lele atau Clarias sp. merupakan ikan konsumsi yang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Dari warung kaki lima hingga restoran di hotel bintang lima kerap kali menyediakan menu ikan lele. Terlebih di kota-kota banyak menjamur warung pecel di pinggir jalan. Pecel lele merupakan hidangan yang tentunya tidak asing bagi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa ikan lele merupakan komoditas perikanan yang cukup diminati oleh masyarakat. Di samping itu ikan lele mengandung protein hewani yang baik untuk tubuh karena protein merupakan zat pembangun. Selain itu, dari segi budidaya ikan lele relatif mudah untuk dibesarkan karena perawatannya yang relatif mudah.

Ternak Lele untuk konsumsi. Lele yang dibudidaya untuk di konsumsi, artinya budidaya dilakukan sampai lele berukuran besar atau proporsional untuk di konsumsi. Jika anda ingin berternak lele untuk di konsumsi, ada baiknya memilih jenis lele yang ukurannya sudah cukup sedang 6-7 cm agar mudah dan cepat dikembangbiakkan. Biasanya lele ukuran ini dapat dikembangbiakkan dan siap konsumsi pada usia 45 hari.

Mengapa kolam terpal? 

Sebenarnya ada beberapa jenis kolam yang dapat digunakan untuk budidaya dalam perikanan. Diantaranya adalah kolam tanah, kolam semen, bak (fiber glass), dan kolam terpal. Menurut Ginting (2016) pada dasarnya wadah budidaya ikan di kolam terpal adalah solusi untuk beberapa kondisi antara lain lahan yang sempit, modal yang tidak terlalu besar dan solusi untuk daerah yang minim air. Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran.Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan. Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif.

Kolam terpal adalah kolam yang dasarnya maupun sisi-sisi dindingnya dibuat dari terpal. Kolam terpal dapat mengatasi resiko-resiko yang terjadi pada kolam tanah maupun kolam beton. Terpal yang dibutuhkan untuk membuat kolam ini adalah jenis terpal yang dibuat oleh pabrik dimana setiap sambungan terpal dipres sehingga tidak terjadi kebocoran. Ukuran terpal yang di sediakan oleh pabrik bermacam ukuran sesuai dengan besar kolam yang kita inginkan.

Pembuatan kolam terpal dapat dilakukan di pekarangan ataupun di halaman rumah. Lahan yang digunakan untuk kegiatan ini dapat berupa lahan yang belum dimanfaatkan atau lahan yang telah dimanfaatkan, tetapi kurang produktif. Keuntungan dari kolam terpal adalah :

1. Terhindar dari pemangsaan ikan liar.
2. Dilengkapi pengatur volume air yang bermanfaat untuk memudahkan pergantian air maupun 
    panen. Selain itu untuk mempermudah penyesuaian ketinggian air sesuai dengan usia ikan.
3. Dapat dijadikan peluang usaha skala mikro dan makro.
4. Lele yang dihasilkan lebih berkualitas, lele terlihat tampak bersih, dan tidak berbau dibandingkan 
    pemeliharaan di wadah lainnya.

Secara umum, ada tiga jenis kolam terpal yang biasa digunakan yaitu: 

1. Kolam terpal di atas permukaan tanah
2. Kolam terpal menggunakan bamboo atau kayu
3. Kolam terpal dengan kerangka besi atau pipa ledeng

Ketiganya mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, antara lain:

1. Kolam terpal di atas permukaan tanah
Kelebihan : 
- Praktis dan lebih mudah dibuat
- Investasi kecil
- Tidak mudah terkena banjir
- Mudahdilakukan pengeringan dan pembersihan
- Mudah disifon untuk mengeluarkan timbunan sisa pakan dan kotoran di dasar kolam
- Mudah dilakukan pemanenan
Kekurangan:
- Suhu kurang stabil
- Bila tidak kokoh /  kuat akan mudah jebol

2. Kolam terpal menggunakan bamboo atau kayu
Kelebihan:
- Mudah dipindahkan
- Mudah dibongkar
- Mudah dilakukan pemanenan
- Mudah dibersihkan dan dikeringkan
- Relatif praktis
- Dapat dibangun di lahan sempit
Kekurangan:
- Jika tidak kokoh /kuat mudah jebol
- Tidak tahan lama, terutama di daerah rayap

3. Kolam terpal dengan kerangka besi atau pipa ledeng
Kelebihan:
- Mudah dipindahkan
- Mudah dibongkar
- Lebih kokoh/ kuat
- Tahan lama
- Mudah dilakukan pemanenan
- Mudah dilakukan pembersihan dan pengeringan
Kekurangan:
- Biaya relatif mahal
- Relatif sulit dalam pembuatan
- Bila berkarat dapat merusak   terpal

Bagaimana persiapan budidaya lele dengan kolam terpal?

Persiapan untuk budidaya ikan lele dengan kolam terpal meliputi persiapan lahan kolam , persiapan material terpal ,dan persiapan perangkat pendukung. Lahan yang perlu disediakan disesuaikan dengan keadaan dan jumlah lele yang akan dipelihara. Dalam pemeliharaan ikan lele untuk pembesaran sampai tingkat konsumsi bisa digunakan lahan dengan ukuran 3x3x1 meter yang diisi air setinggi 70 cm. Dengan pola budidaya intensif, kolam tersebut dapat menampung jumlah tebar benih ikan lele sebanyak kurang lebih 1800 - 2000 yang masing-masing benih tersebut berukuran 5 - 7 cm.. Model pembuatan kolam bisa dengan menggali tanah kemudian diberi terpal atau dengan membuat rangka dari kayu yang kemudian diberi terpal. Cara pertama lebih membuat terpal tahan lebih lama. Langkah-langkah pembuatan kolam terpal diantaranya:

table
sumber gambar : http://www.bpppbelawan.bpsdmkp.kkp.go.id/

Analisa Usaha Budidaya Ikan Lele dikolam Terpal

      1. Gambaran Lingkungan Usaha

Ikan lele merupakan komoditi ekspor yang dapat memberikan keuntungan besar, kebutuhan akan ikan lele untuk dikonsumsi sebagai penghasil protein yang diperlukan untuk kebutuhan tubuh kita dengan berbagai macam olahan.

      2. Aspek Produksi

Penyiapan sarana dan peralatan Jenis kolam yang saya gunakan adalah kolam terpal sehingga dalam penyiapan sarana dan peralatan yang digunakan tidak banyak biaya.

      3. Aspek Pemasaran

Dalam pemasaran saya tidak perlu susah payah untuk menjual, karena banyak pedagang atau penampung ikan lele untuk di jadikan pecel lele yang siap membeli ikan lele tersebut.

      4. Aspek Organisasi

Pembudidayaan ikan lele ini dapat menyerap banyak sekali tenaga kerja, sehingga aspek organisasi disini secara tidak langsung dapat terpenuhi. Seseorang dapat bekerjasama dan berorganisasi dengan orang lain untuk membudidayakan ikan lele ini dengan sistem bagi modal dan bagi hasil.

Sebelum memulai sesuatu kegiatan usaha budidaya ikan, pembudidaya harus mengetahui aspek-aspek yang dapat mempengaruhi usaha yang dilakukan. Dengan harapan supaya usaha yang dilakukan dapat lancar dan sukses. Yaitu dengan melakukan analisis sebagai berikut:

     1. Strong (kekuatan)

a. Dengan budi baya ikan lele ini tidak terlalu memerlukan modal yang besar.
b. Penjualan ikan lele tidak terlalu sulit, tidak seperti ikan yang lainya.
c. Masih tingginya permintaan pasar terhadap lele terlihat dari mahalnya harga lele dipasar.
d. Masih impornya perikanan lele dari luar kota

       2.   Weaknes (kelemahan)

Tidak bisa membudidayakan produksi ikan lele dalam skala besar Bagi anda yang tak memiliki lahan yang cukup anda bisa membudidayakan ikan lele dengan menggunakan kolam dari terpal

     3. Opportunities (peluang)

a. Peluang usaha yang tidak pernah mati adalah usaha perikanan. Sebab setiap hari masyarakat 
   membutuhkan ikan untuk dikonsumsi semakin meningkat.
b. Lama pemeliharaan ikan lele 45 hari .
c. Banyaknya penjual lele di pasar menjadi nilai tambah karena berarti lele masih mudah dalam 
   pemasaran.

     4. Threat (ancaman)

a. Dalam usaha ikan lele ini harus teliti karena ikan tidak tahan dengan cuaca yang tidak             
   stabil.
b. Selalu mengecek kedalaman air. Kedalaman air jangan sampai kurang dari 70cm karena itu akan 
    menghambat pertumbuhan ikan.

Permodalan

Biaya awal atau modal untuk mendirikan usaha ini, jumlah modal sebelum mendirikan usaha adalah Rp.3.500.000.

Biaya Tetap

Untuk biaya tetap adalah sebagai berikut: 

1.   Paku                                                                   = Rp. 10.000,-

2.   Bambu 1 Rp 10.000 @ 16 batang                     = Rp. 160.000,-

3.   Terpal 3 x 3 x 1 m                                           = Rp. 225.000,-

4.   Tanggok 2 buah @ Rp 45.000;                           = RP  90.000;                                  

5.   Palu 1 buah                                                        = Rp.   45.000,-

6.   Pembuatan kolam terpal 2 orang 2 hari             = Rp. 200.000,-

7.   Gergaji 1 buah                                                    = Rp. 35.000,-

8.   Golok 1buah                                                        = Rp. 30.000,-

9.    Bibit ikan 2000 ekor @ Rp300;                         = Rp. 600.000,-

10. Suplement organik 4 buah @ Rp 45.000;         = Rp. 180.000,-

11. Ember 2 buah @ Rp 45.000;                             = Rp.   90.000,-

12. Pembuatan pagar kolam 2 orang x 3 hari           = Rp. 300.000,-+

                                                                  Jumlah     = Rp 1.965.000,-


Biaya Variable

1.   Air 1 bulan                                                  = Rp. 130.000,-

2.   Pakan ikan 1 karung Rp.235.000                = Rp. 705.000,-

3.   Listrik                                                            = Rp.   80.000,-

4.   Transportasi                                                = Rp. 100.000,-+
                                                Jumlah              = Rp. 1.015.000,-


Biaya tetap + biaya variabel 1 kali produksi

       Rp.1.965.000 + Rp.1.015.000 = Rp.2.980.000


Biaya Tak Terduga


= Modal – ( biaya tetap + biaya variable)


= Rp. 3.500.000 – (Rp. 1.965.000 + Rp. 1.015.000)


= Rp. 3.500.000 – Rp.2.980.000,-


= Rp. 520.000,-


ANALISIS KEUANGAN

Persentase ikan yang hidup 95% persentase ikan dari 2000 ekor 2000 x 95 : 100 = 1900 ekor. Jadi persentase ikan yang hidup 1900 ekor
Penentuan Harga dan penerimaan . Setiap 1 kg ikan berisi 8 ikan lele jadi 1900 ekor/8 ekor = 273,5 kg. Harga jual = 273,5 x 15.000 = Rp. 4.102.500,-
Pengeluaran 1 kali produksi. Biaya tetap + biaya variabl. Rp. 1965.000 + Rp 1.015.000 = 2.980.000
Keuntungan dari hasil penjualan sekali produksi/45 hari. Penerimaan – Pengeluaran. Rp. 4.102.500 – Rp. 2.980.000 = Rp. 1.122.500


Jadi selama 45 hari masa pemeliharaan ikan lele ukuran konsumsi memperoleh keuntungan sebesar Rp. 1.122.500 (satu juta seratus dua puluh dua ribu lima ratus rupiah)


Sumber : http://www.bpppbelawan.bpsdmkp.kkp.go.id/index.php/artikel/105-budidaya-ikan-di-kolam-terpal


Sabtu, 27 Agustus 2016

Menggali Potensi Budidaya Ikan Air Tawar di Indonesia

Oleh: Ilham Sambudhi (13771)

Potensi alam di indonesia terbilang cukup luas untuk berbagai bidang usaha. Dalam kesempatan ini, mari kita bahas bersama mengenai potensi budidaya ikan air tawar. Indonesia sangat potensial untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar, selain untuk pengembangan pertanian, perkebunan dan pertambangan. Sejauh mana potensi alam Indonesia untuk budidaya ikan air tawar? Mari kita gali bersama.

Pada tahun 2010, produksi perikanan Indonesia berada pada peringkat ke-13 terbesar di dunia.
Budidaya Ikan Air Tawar – Potensi Produksi Perikanan di Indonesia
Meski secara statistik, tingkat konsumsi ikan Indonesia masih terbilang rendah, yakni 30,47 kg/kapita/tahun, jika dibandingkan tingkat konsumsi ikan Malaysia yang mencapai 45 kg/kapita tahun, namun potensi budidaya ikan air tawar tetap menjanjikan. Karena faktanya, produksi ikan kita yang melimpah itu juga menjadi devisa negara melalui ekspor perikanan yang dilakukan para nelayan lokal.

Berbagai potensi itu didukung dengan kondisi geografis Indonesia yang strategis di titik silang perdagangan dunia. Sayangnya, pemerintah baru menangkap potensi ini pascareformasi, setelah Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur) dengan berani dan mencengangkan membentuk Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebagai bagian dari Kabinet Persatuan Nasional.

Seperti diketahui, sebelum masa reformasi, fokus pembangunan Indonesia lebih diarahkan pada pembangunan agrarian dan industri pertambangan. Baru pada masa Gus Dur, potensi kelautan dan perikanan dilirik. Dengan potensi laut dan perikanan yang besar, memang Indonesia seharusnya mampu menjadi pemasok hasil perikanan terbesar yang mampu “memberi makan” dunia. Di sisi lain, jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta orang dan bila digabungkan dengan kawasan Asia lainnya, bisa mencapai jumlah 2 milyar orang, menjadi pasar produk perikanan yang sangat cerah.
Maka bukan bualan jika Kementerian Kelautan RI sejak tahun 2010 lalu telah mencanangkan diri sebagai penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar tahun 2015. Tahun 2015, diharapkan produksi budidaya ikan air tawar dan laut Indonesia meningkat hingga 30% per tahun.

Lalu, bagaimana agar potensi budidaya ikan air tawar dan laut terberdayakan dan target yang dicanangkan itu berhasil? Pemerintah RI sebenarnya sudah memilik strateginya. Tapi entah realisasinya. Dalam sejumlah kesempatan, Presiden RI maupun Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sering mengulas hal itu. Di antara sejumlah strateginya itu adalah:

1. Perbaikan manajemen distribusi perikanan untuk meningkatkan daya saing produk, baik di pasar domestik maupun internasional.

2. Menata sistem jaringan distribusi hasil perikanan yang terintegrasi, efektif, dan efisien. Memperbanyak sentra budidaya ikan air tawar dan laut untuk memangkas mahalnya biaya distribusi dan menutup kesenjangan produk, kesenjangan lokasi, kesenjangan waktu produksi dan konsumsi, kesenjangan pasokan dan ketersediaan, serta kesenjangan informasi dan komunikasi.

3. Komitmen pemerintah dalam memfasilitasi pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan budidaya ikan air tawar dan laut, serta mewujudkan jaringan distribusi hasil perikanan untuk meningkatkan daya saing produk perikanan.

4. Mewujudkan Sistem Logistik Nasional, untuk mewujudkan kegiatan logistik nasional yang secara lokal terintegrasi dan secara global terhubung dengan pusat-pusat pertumbuhan perekonomian dunia.

5. Kesediaan pemerintah menciptakan pusat-pusat distribusi yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana pendukung pemasaran perishable product, dengan dukungan kelembagaan jaringan dan distribusi yang terintegrasi, terkonsolidasi, dan terkoordinasi dengan baik.

6. Menggerakkan laju perdagangan hasil perikanan.

7. Menciptakan keseimbangan dan kestabilan harga ikan melalui pembelian ikan dari produsen dengan harga yang sudah ditetapkan sejak awal (harga patokan ikan).

8. Meningkatkan strategi dan sistem pemasaran dengan sistem waralaba bertujuan untuk membantu pemasaran produk perikanan yang berasal dari UKM skala kecil dan mikro.

9. Meningkatkan peran PT Perikanan Nusantara (Persero) untuk membantu para pelaku budidaya ikan air tawar dan laut, dan koperasi usaha kecil agar mampu berperan sebagai franchisor.

10. Memberikan pelatihan dan bantuan subsidi bagi para pelaku budidaya ikan air tawar dan laut serta koperasi usaha kecil dan menengah untuk meningkatkan kompetensi serta produksi dan jaringan pemasarannya.

11. Membantu meningkatkan usaha kreatif di bidang olahan pangan ikan melalui bantuan keuangan, pelatihan dan promosi, serta pemasarannya.

Budidaya Ikan Air Tawar – Berbagai Zat Penting dalam Ikan

Meski secara statistik tingkat konsumsi ikan di negeri ini terbilang rendah, tetapi peluang bisnis dari budidaya ikan air tawar masih sangat tinggi. Sebab selain bisa dijual dalam kondisi segar, ikan air tawar juga bisa melahirkan bisnis lain, yakni bisnis makanan olahan berbahan ikan tawar. Omzetnya pun bisa mencapai puluhan juta rupiah. Olahan abon atau nugget berbahan ikan patin dan lele juga memberikan keuntungan lebih besar ketimbang dipasarkan dalam bentuk ikan segar.

Sejumlah makanan olahan alternatif dari ikan air tawar yang kini ramai dipasarkan, diantarnya abon, bakso, otak-otak, kerupuk, sarden, nugget, dan lain-lain. Berjualan produk ikan air tawar yang sudah diolah lebih menguntungkan dibandingkan dengan menjual dalam bentuk ikan segar.

Setelah membahas beragam strategi dan potensi ekonomi dari budidaya ikan air tawar dan laut, ada baiknya kita mengenal beragam manfaat ikan bagi kesehatan tubuh. Hal ini dapat meningkatkan motivasi kita dan masyarakat lainnya untuk meningkatkan jumlah konsumsi ikan dalam keseharian. 

Sejumlah zat penting dan menyehatkan yang terkandung dalam ikan yaitu sebagai berikut:

1. Asam Lemak Omega-3
Zat ini bermanfaat dalam menjaga arteri dari penyumbatan dan menurunkan tekanan darah, serta mengurangi resiko serangan jantung dan stroke. Omega-3 juga dapat membantu mengurangi peradangan dalam tubuh. Dengan mengonsumsi omega-3 secara rutin juga mengurangi resiko arthritis, diabetes, dan kanker. Beberapa ahli juga meyakini bahwa omega-3 sebenarnya bisa membantu perkembangan otak. Banyak jenis ikan yang kaya omega-3 diantaranya adalah lemuru, tuna, sardin, kembung, salmon, dan trout.

2. Kandungan Lemak Jenuh Rendah
Berbeda dengan daging ayam, kambing, sapi yang mengandung lemah jenuh tinggi, daging ikan justru menghasilkan lemak tak jenuh ganda. Lemak jenuh tinggi, bila terlalu banyak dikonsumsi dapat menyebabkan masalah bagi kesehatan, yakni penyumbatan arteri. Sebab tubuh hanya membutuhkan lemak jenuh maksimum 10% dari asupan kalori.

3. Vitamin
Ikan tertentu mengandung sejumlah vitamin. Seperti ikan salmon memberikan 100% vitamin D yang dibutuhkan dan 50% vitamin B12. Ikan kaleng seperti sarden yang telah lunak, tulangnya mudah dicerna dan menyediakan kalsium yang dibutuhkan tubuh. Ikan lainnya seperti halibut menyediakan seperempat dari kebutuhan magnesium harian yang dapat memberikan ketenangan dan membuat Anda teratur.

4. Paket Protein
Ikan segar mengandung protein yang lengkap dengan semua asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh untuk mempertahankan metabolisme tubuh yang sehat. Melalui metabolism yang baik, tubuh Anda akan menggunakan protein sebagai bahan bakar untuk menurunkan berat badan. Menurut para ahli, terdapat 18 gram protein untuk setiap 100 gram ikan segar. Sedangkan ikan yang telah dikeringkan dapat mencapai kadar protein 40 gram dalam 100 gram ikan kering.

5. Mengurangi Resiko Alzheimer
Kebiasaan makan ikan ternyata juga berdampak positif pada otak. Orang yang terbiasa makan ikan bakar setidaknya sekali dalam seminggu akan mengalami peningkatan kesehatan otak serta pengurangan risiko terkena Alzheimer. Studi ini dilakukan oleh University of Pittsburgh Medical Centre and School of Medicine.

6. Mineral
Ikan mengandung banyak mineral, diantaranya magnesium, phospor, yodium, fluor, zat besi, copper, zinc, dan selenium. Mineral yang terkandung dalam ikan kurang lebih sama banyaknya dengan mineral yang ada dalam susu, seperti kalsium, phosphor dan lainnya.

Ikan mengandung sejuta manfaat bagi kesehatan. Hal itu karena ikan mengandung berbagai zat penting yang diperlukan oleh tubuh. Ikan sangat baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil. Mengonsumsi ikan juga sangat baik untuk meningkatkan kecerdasan Anak. Oleh karena itu, mengonsumsi ikan harus dibudayakan. Apabila mengonsumsi ikan ini sudah menjadi budaya masyarakat, maka diharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang cerdas.

Jadi, mari kita bersama-sama membangun pola pemikiran masyarakat kita untuk meningkatkan konsumsi ikan yang sangat menguntungkan ini.

sumber: www.anneahira.com

Jumat, 26 Agustus 2016

BUDIDAYA IKAN DI WADUK DENGAN SISTEM KERAMBA JARING APUNG (KJA) YANG BERKELANJUTAN

oleh : Khoirotunnisa/13695/DPKP GOL A2.1

Saat ini budidaya ikan di waduk dengan menggunakan KJA memiliki prospek yang bagus untuk peningkatan produksi ikan. Teknologi budidaya ikan dengan sistem KJA telah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Budidaya dengan sistem keramba jaring apung tersebut mulai dikembangkan di perairan pesisir dan perairan danau. Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu: 1) Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya; 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan; 3) Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan.
Perairan danau/waduk masih dianggap milik bersama (common property) dan bersifat terbuka (open access), sehingga Pertumbuhan KJA berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkendali dan terkontrol. Banyaknya KJA menimbulkan masalah baru bagi lingkungan,berupa limbah organik, yang dapat menyebabkan pencemaran waduk.
Pada saat usaha peningkatan produksi ikan dilakukan maka secara langsung akan berdampak pada meningkatnya usaha budidaya ikan intensif dengan tingkat kepadatan ikan yang tinggi dan dengan pemberian pakan buatan, pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses sedimentasi yang tinggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar waduk/perairan yang akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan oksigen dan pencemaran air danau/waduk).
Setiap tahunnya di danau/waduk di Indonesia selalu terjadi kematian massal terhadap ikan-ikan yang dibudidayakan. Penyebab kejadian tersebut diantaranya adalah adanya sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun dari rumah tangga sehingga menurunkan fungsi ekosistem waduk yang akhirnya terjadi pencemaran waduk, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya), serta diakhiri dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau, dan diperparah dengan adanya limbah dari pabrik dan limbah rumah tangga. Selain itu populasi KJA di waduk di Indonesia contohnya di Waduk Cirata dan Saguling di Jawa Barat telah melebihi kapasitas, sehingga turut mempengaruhi penurunan kualitas perairan beserta produksi budidaya ikan air tawar.  
Melihat akibat yang ditimbulkan dari budidaya ikan sistem KJA di danau/waduk maka budidaya ikan sistem KJA perlu memperhatikan manajemen budidaya yang berkelanjutan. Manajemen budidaya ikan yang berkelanjutan adalah 1) pengelolaan yang dapat berlanjut sepanjang waktu sebagai hasil proses kebijakan sosio-politik, 2) menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan secara ekologis harus dapat menjamin kelestarian sumberdaya perairan. Secara umum budidaya ikan sistem KJA merupakan kegiatan ekonomi yang menguntungkan jika dikelola dengan baik. Belajar dari pengalaman yang sudah terjadi diperlukan cara pengelolaan atau manajemen perairan danau/waduk sesuai dengan daya dukung. Tujuan pengelolaan tersebut yaitu peningkatan produksi ikan dan memelihara produksi dan sumber daya perairan tersebut sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pemanfaatan danau/waduk.
Manajemen Budidaya ikan dengan KJA yang berkelanjutan dapat dengan cara sebagai berikut :

1.Pemilihan Lokasi 
Danau/waduk yang dipilih sebagai kawasan untuk pengembangan budidaya ikan sistem KJA dengan minimal danau/waduk 100 ha dengan memperhatikan daya dukungnya. Pemanfaatan danau/waduk untuk kegiatan budidaya ikan sistem KJA harus dilakukan secara rasional, dan tetap mengacu pada tata ruang yang telah ditentukan serta kondisi sumber daya dan daya dukung perairannya, dengan maksud untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mempertahankan fungsi utama waduk. Pembagian zonasi untuk perairan waduk secara umum dilakukan dengan mengacu pada kondisi lingkungan fisik, sifat kehidupan dan penyebaran populasi ikan dalam usahanya mengelola perikanan yang terpadu dan lestari (Ilyas et al, 1989).
Salah satu penyebab kematian massal ikan budidaya adalah penurunan tinggi muka air. Apabila tinggi muka air menurun maka jarak karamba jaring apung dengan dasar menjadi lebih dekat, akibatnya ikan budidaya semakin mendekati lapisan hipolimnion yang reduktif. Akibatnya kolom air yang reduktif semakin mendekati KJA. Kolom air menjadi anoksik atau lapisan anoksik telah mencapai permukaan sehingga dapat disebutkan bahwa penyebab kematian massal karena kekurangan oksigen dan tingginya konsentrasi zat toksik (H2S) (Simarmata, 2007). Sebaiknya pada saat tinggi muka air minimum, padat tebar ikan di KJA dikurangi atau ikan budidaya diganti dengan jenis yang lebih toleran terhadap konsentrasi DO yang rendah. Menurut Krismono (1999), kegiatan budaya ikan sistem KJA di danau/waduk, kedalaman air disyaratkan minimal 5 m pada jalur yang berarus horizontal. Kedalaman tersebut dimaksudkan untuk menghindari pengaruh langsung kualitas air yang jelek dari dasar perairan.

2.Penggunaan KJA terhadap Daya Dukung Perairan Waduk/Danau
Beberapa pendapat mengenai penggunaan KJA terhadap daya dukung waduk, diantaranya (http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=518):
o     Menurut Soemarwoto (1991), bahwa luas areal perairan waduk yang aman untuk kegiatan budidaya ikan di KJA adalah 1% dari luas seluruh perairan waduk dengan pertimbangan bahwa angka 1% tersebut non significant untuk luasan suatu waduk serbaguna sehingga dianggap tidak akan mengganggu kepentingan fungsi utama waduk dan memberi peluang bagi peruntukan lainnya, sedangkan menurut Schmittou (1991), bahwa luas kawasan untuk budidaya KJA di suatu area sebaiknya tidak lebih dari 3 ha (luas optimum).
o    Memperbaiki konstruksi KJA yang ramah lingkungan dengan pelampung polystyrene foam. Penelitian yang dilakukan Prihadi dkk (2008) terhadap bahan pelampung KJA menggunakan bahan pelampung drum seng, drum plastik dan drum polystyrene foam. Hasil analisis KJA yang terbuat dari bambu dengan pelampung polystyrene foam merupakan KJA yang paling ramah lingkungan dibandingkan dengan KJA lainnya.
o       Menurut Rochdianto (2000), letak antara jaring apung sebaiknya berjarak 10–30 m agar arus air leluasa membawa air segar ke dalam jaring-jaring tersebut, sedangkan menurut Schmittou (1991), jarak antar unit KJA yang baik adalah 50 m.
o      Pengendalian/pengurangan jumlah KJA yang beroperasi. Pemindahan lokasi KJA pada saat akan terjadi umbalan yang terjadi secara menyeluruh (holomictic) ke lokasi perairan yang lebih dalam (Enan dkk, 2009). Untuk meningkatkan DO di perairan menggunakan : 1) kincir yang dapat dipasang pada setiap unit KJA atau pada satu lokasi KJA (Enan dkk, 2009); 2) pompa air yang dipancarkan dari atas (Krismono, 1995), dengan penambahan oksigen murni yang diberikan pada saat oksigen kritis (dini hari) (Danakusumah, 1998). Keramba jaring apung ganda/berlapis dikembangkan dengan tujuan untuk mengurangi beban dari sisa pakan, yang dapat mencemari perairan. Kuantitas limbah pakan yang siginifikan tinggi perlu diadakan restorasi waduk melalui pengangkatan sedimen (dredging) agar kegiatan perikanan dapat aman dari tingginya bahan toksik dan limbah pencemaran ini berpeluang dijadikan pupuk pertanian (Yap, 2003).
o       Selain itu dalam PERDA Provinsi Jawa Barat Nomor : 7 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Perikanan, disebutkan bahwa setiap pembudidaya ikan hanya diperbolehkan memiliki paling banyak 20 petak keramba jaring apung (KJA), dengan ukuran petakan 7 x 7 meter.

3.Manajemen Pakan
Penerapan strategi/manajemen pakan ikan yang tepat yaitu mulai dari kualitas pakan, tipe dan frekuensi pemberian pakan, karena dengan tidak terkendalinya aktivitas budidaya ikanlah yang memberikan kontribusi semakin cepat memburuknya kualitas lingkungan perairan. berdasarkan hasil penelitian Sutardjo (2000) makin banyak jumlah KJA makin banyak jumlah pakan yang dibutuhkan yang berarti makin banyak limbah yang terbuang ke perairan, yang diperkirakan sekitar 30–40%. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pakan berdasarkan persentase bobot badan ikan, di mana persentase kebutuhan pakan menurun dengan semakin bertambahnya bobot ikan. Pemberian pakan 3% dari bobot ikan perliharaan per hari dan diberikan tiga kali sehari, dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sisa pakan yang masuk perairan. Ikan yang berukuran kecil dan berumur muda membutuhkan jumlah pakan yang lebih banyak daripada ikan dewasa berukuran besar (Rochdianto, 2000). Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi jumlah sisa pakan yang masuk ke perairan sehingga dapat mencegah terjadinya pencemaran perairan.

4.Pemilihan Jenis Ikan
Jenis ikan yang dibudidayakan di KJA harus memenuhi kriteria, diantaranya adalah : 1) tidak mengancam keanekaragaman hayati di perairan waduk; 2) mempunyai nilai ekonomis tinggi; 3) dalam proses budidaya menghasilkan limbah organik yang sedikit. Pemilihan benih bertujuan untuk mendapatkan benih yang sehat dan bermutu. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain, benih ditebar sesuai SNI yang dijamin dengan sertifikat sistem mutu perbenihan dan selain itu padat penebaran sesuai dengan SNI pembesaran di KJA, sebelum ditebar benih harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi perairan.

5.Pola dan Peizinan Usaha
Kegiatan usaha budidaya ikan sistem KJA dapat dilakukan melalui Pola Swadaya dan Pola Kemitraan Usaha. Dalam pengelolaan danau/waduk, hendaknya tidak memikirkan keuntungan dari aspek ekonomi saja tetapi juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Hal ini dapat dilakukan dengan pengelolaan zonasi danau/waduk yang sesuai. Selain itu, sisi perizinan pendirian KJA diprioritaskan pada masyarakat sekitar danau/waduk. Sebagai salah satu contoh peraturan yang memuat tentang KJA di waduk ada dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor : 7 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Perikanan, pada Bab X mengenai Perizinan Usaha Perikanan Pasal 67 :
1.Pengembangan usaha budidaya ikan di perairan umum daratan lintas Kabupaten/Kota, ditetapkan berdasarkan kajian ilmiah yang pelaksanaannya ditetapkan oleh Gubernur.
2.Setiap pembudidaya ikan hanya diperbolehkan memiliki paling banyak 20 petak keramba jaring apung (KJA), dengan ukuran petakan 7 x 7 meter.
3.Untuk mendapatkan SIPBI KJA, pembudidaya ikan harus memiliki rekomendasi teknis dari Dinas.
4.Rekomendasi teknis dari Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (3), digunakan untuk mendapatkan Surat Penetapan Lokasi (PL) dari unit pengelola perairan umum daratan.
5.Setiap pembudidaya ikan dan pelaku usaha yang memanfaatkan perairan umum daratan, berkewajiban untuk melakukan pelestarian lingkungan yang pelaksanaannya diatur oleh Gubernur. 
Dalam mendukung keberhasilan manajemen budidaya ikan di waduk dengan sistem KJA yang berkelanjutan, maka 1) perlu diterapkan budidaya ikan berbasis trophic level (aquaculture based trophic level) agar produktivitas perairan tetap optimal, 2) perlu pendekatan sosial budaya dan sosialisasi peraturan yang tepat pada strategi pengurangan jumlah KJA dan penataan kembali lokasi budidaya ikan sistem KJA, 3) perlu koordinasi antara pembudidaya, pengelola waduk, pemerintah, masyarakat sekitar waduk dalam memanfaatkan danau/waduk dan menjaga kelestariannya, 4) serta perlu dukungan sarana dan prasarana yang terkait budidaya KJA dalam upaya manajemen budidaya ikan sistem KJA yang lestari dan berkelanjutan. Semuanya kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan penyuluhan, pelatihan, dan peningkatan kesadaran agar masyarakat ikut berperanserta aktif dalam menjaga pelestarian perairan waduk.

sumber : 
Pusluh.kkp.go.id/arsip/file/1959/budidaya-ikan-di-waduk-ok_p.Wulandar.docx/